BIMBINGAN DAN KONSELING BELAJAR (BK BELAJAR)

ARTIKEL TERKAIT
DOWNLOAD ARTIKET INI DISINI

PENGERTIAN BELAJAR
                Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkunganya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.





PENGERTIAN BELAJAR MENURUT PARA AHLI:

                   Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
Demikian beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa BK belajar atau akademik adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan secara face to face maupun melalui media tertentu oleh konselor yang bertujuan agar siswa didik memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat,emiliki keterampilan belajar yang efektif. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Memiliki keterampilan membaca buku.
BK belajar merujuk kepada aspek belajar peserta didik di bidang belajar. ini agar kita para konselor dapat memberikan layanan yang sesuai dengan aspek belajar baik itu masalah dalam belajar, motivasi belajar atau lainnya.

A.    Pengertian Masalah Belajar
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh siswa-siswa yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat terjadi pada siswa-siswa yang pandai atau cerdas.
Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak terlihat secara lahiriah. Ketidakmampuan dalam belajar tidak dapat dilihat dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah dalam kesulitan belajar. Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor intelligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggipun belum tentu dapat menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam pencapaian hasil belajar.

B.     Gejala siswa yang mengalami kesulitan belajar
1.      Menunjukkan prestasi yang rendah
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3.       Lambat melaksanakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal latihan.
4.       Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti berpura-pura dusta.
5.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih, dll.

C.    Jenis – jenis masalah belajar
Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk pencapaian hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah pada semestinya. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
(a) learning disorder
(b) learning disfunction
(c) underachiever
(d) slow learner, dan
(e) learning diasbilities.

Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.

1.      Learning Disorderatau kekacauan belajar
Keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena adanya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan membaca, menulis dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2.       Learning Disfunction
Merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3.      Under Achiever
Mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4.      Slow Learner atau lambat belajar
Slow learner adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang lebih tinggi.
5.      Learning Disabilitiesatau ketidakmampuan belajar
Mengacu pada gejala dimana siswa sulit atau tidak mampu belajar dan menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Dari sedikit penjelasan diatas, dirasakan bahwa orangtua perlu mengetahui bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh putra atau puteri mereka agar lebih mengerti bentuk kesulitan yang putera atau puteri mereka hadapi. Banyak orangtua yang juga bertanya dan bingung tentang pendidikan dan prestasi belajar anak, baik di sekolah maupun dirumah.

D.    Faktor-Faktor Penyebab Masalah Belajar
Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak yang mengalami masalah belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa yang menjadi penyebab munculnya masalah belajar. Pada garis besarnya faktor-faktor timbulnya masalah belajar pada siswa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:

1.      Faktor-faktor internal (faktor-faktor yang berada pada diri siswa itu sendiri), antara lain:
a.         Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahun.
b.         Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasan cenderung kurang.
c.         Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyusuaikan diri (maladjusment), tercekam rasa takut, benci dan antipati, serta ketidak matangan emosi.
d.        Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah, sperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah malas dalam belajar, dansering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

2.      Faktor-faktor eksternal (faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu), yaitu berasal dari:
a.          Sekolah, antara lain:
1)        Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
2)        Terlalu berat beban belajar (siswa) dan untuk mengajar (guru)
3)        Metode mengajar yang kurang memadai
4)         Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
b.        Keluarga (rumah), antara lain:
1)         Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis
2)        Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
3)        Keadaan ekonomi.

E.     Peran Konselor dalam Mengatasi Masalah Belajar
Bimbingan belajar merupakan upaya konselor untuk membantu siswa yang mengalami masalah dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1.      Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
a.       Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
b.      Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
c.       Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
d.       Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial
e.      Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

2.      Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek :
(a) substansial – material
(b) struktural – fungsional
(c) behavioral dan atau
(d) personality.

Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dan kawan-kawan telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat dapat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek :
(a) jasmani dan kesehatan
(b) diri pribadi
(c) hubungan sosial
(d) ekonomi dan keuangan
(e) karier dan pekerjaan
(f) pendidikan dan pelajaran
(g) agama, nilai dan moral
(h) hubungan muda-mudi
(i) keadaan dan hubungan keluarga dan
(j) waktu senggang.

3.      Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

4. Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.

5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jikajenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

6. Follow Up dan Evaluasi
Cara apapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah sebaiknya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :
a)      Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas.
b)      Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
c)      Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
1.         Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
2.         Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
3.          Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
4.         Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5.         Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
6.         Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
7.         Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
F.      Contoh Permasalahan dan Cara Mengatasinya
Permasalahan
Seorang siswa kelas 3 IPS bernama Wahyu, terlihat jarang masuk sekolah dan sering melanggar tata tertib dan prestasi belajarnya kurang. Dari data yang ada siswa suka membolos apabila ada mata pelajaran Matematika , pada akhir tahun yang lalu siswa yang bersangkutan termasuk salah seorang yang dipermasalahkan dalam kenaikan kelas. Wahyu tidak mempunyai tempat belajar khusus dirumahnya. Dia banyak membantu kegiatan keluarga sehingga sering terlambat masuk sekolah.
Data lain menunjukkan ia merupakan anak ke enam dari sepuluh bersaudara, ketiga saudaranya sudah kuliah dan salah satu adiknya sama-sama berada di kelas 3 IPA. Status sosial-ekonominya cukup tetapi jumlah saudaranya banyak yang harus dibiayai , keadaan ini terlihat cukup sulit mengingat ketiga saudaranya berada di PT dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Wahyu sebenarnya kurang berminat tehadap bidang studi IPS, bahkan dalam menyelesaikan tugasnya ia pernah bentrok dengan salah satu guru. Kesukaran yang dialaminya adalah tidak dapat memanfaatkan waktu belajar secara efektif. Menurut tes Psikologis Wahyu termasuk anak yang memiiki kecerdasan umum rata-rata dan dari segi kepribadian secara potensial Wahyu mempunyai kecenderungan untuk berprestasi lumayan tetapi motivasinya rendah.
Prosedur Pemberian Bantuan Oleh Konselor, sebagai berikut:
v  Identitas Siswa
Nama                    : Wahyu
Kelas                     : 3
Jurusan                                : IPS
1.      Identifikasi masalah siswa :
-          Jarang masuk sekolah (sering membolos pada mata pelajaran matematika)
-          Sering melanggar tata tertip
-          Prestasi belajar kurang
-          Tidak dapat memanfaatkan waktu belajar secara efektif
2.      Melokalisasi Letak Kesulitan Belajar Siswa
-          Siswa mengalami kesulitan belajr pada mata pelajaran matematika
-          Tidak berminat pada mata pelajaran IPS
3.      Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa
a.       Faktor Internal:
-          Kurangnya motivasi dalam belajar
-          Kurang berminat pada mata pelajaran IPS dan matematika
-          Kurang senang dengan guru
-          Tidak bisa memanfaatkan waktu belajar secara efektif
b.      Faktor Eksternal :
-          Fasilitas belajar yang kurang memadai
-          Mempunyai beban ekonomi
4.      Memperkirakan Alternatif Bantuan (Prognosa)
-          Siswa J masih mungkin di tolong
-          Waktu yang diperlukan untuk memberikan layanan bantuan 1 bulan, 4 x pertemuan
-          Pertolongan diberikan pada saat jam  pelajaran di ruang BK
-          Yang dapat memberikan bantuan: konselor dan orang-orang yang bertugas sebagai  pendukung (wali kelas dan orang tua)
5.      Menetapkan Kemungkinan Cara Mengatasi Kesulitan Siswa
-          Konseling individual
-          Home visit
-          Tutor sebaya
6.      Tindak Lanjut
a.       Konseling Individual
Konselor mengkonseling siswa Wahyu dengan memanfaatkan waktu jam pelajaran dengan meminta izin guru yang bersangkutan.
b.      Home visit
Konselor mengunjungi rumah Wahyu dan menemui orang tua Wahyu dengan tujuan untuk mencari informasi atau data tentang kegiatan Wahyu di rumah.
c.       Tutor Sebaya
-          Konselor meminta bantuan kepada reman Wahyu yang dianggap mampu , untuk membantu kesulitan belajar Wahyu dalam pelajaran Matematika.
-          Konselor membentuk kelompok belajar Matematika.
d.      Konselor menghubungi wali kelas Wahyu untuk memberikan informasi perkembangan pada diri Wahyu.
e.       Konselor mengevaluasi dan mengikuti perkembangan siswa selama satu semester, bila dalam satu semester belum ada perubahan maka konselor harus melakukan tindak  lanjut terhadap hasil evaluasinya dengan cara meneliti dari awal apakah metode yang digunakan salah atau ada penyebab lain.
 KESIMPULAN
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat kelancaran proses belajarnya, oleh karena itu masalah-masalah belajar harus diselesaikan sedini mungkin demi mencapai taraf menyeimbangkan keefektifan belajarnya.
Konselor memiliki peran yang penting dalam membantu siswa dalam mengatasi masalah belajarnya , karena layanan Bimbingan dan Konseling membantu memberikan hal-hal positif  kepada peserta didik, mendorong semangat, memberikan alternatif dan kesempatan, memberikan pencerahan, serta mendorong dan membela terwujudkannya hak dan kepentingan sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal.

DAFTAR REFERENSI


1 Response to "BIMBINGAN DAN KONSELING BELAJAR (BK BELAJAR)"